
Obrolan Vigo Roy Keane: Si Pemarah di Dalam Maupun Luar Lapangan
Vivagoal – Berita Bola – Sebagai seorang pemain, Roy Keane dikenal sebagai kapten yang dihormati kawan dan lawan. Ia dikenal lumayan temperamental. Bahkan tak jarang, ia kerap terlibat friksi. Pasca pensiun dan menjadi pelatih hingga pundit, kebiasaan itu tetep terjaga.
Keane menjadi kapten terlama di Manchester United pasca pensiunnya Eric Cantona. Total, ia sudah 8 tahun mengapteni Setan Merah dari 1997 hingga 2005 silam. Dalam karirnya, ia banyak terlibat friksi dengan pemain lawan, pelatih hingga manajernya sendiri. Banyak momen berwarna yang dialaminya dalam 480an laga yang dilalui bersama tim.
Watak keras Keano hadir lantaran berasal dari keluarga kelas pekerja di pinggiran kota Mayfield, Cork, Republik Irlandia. Mentalitasnya memang sudah terbangun sejak dini. Bahkan di ranah sepakbola, ia sempat diasuh oleh dua manajer terbaik Britania Raya, Brian Clough dan Sir Alex Ferguson. Keduanya memang tak pernah pandang bulu dalan urusan mencaci maki pemain andai ada sesuatu yang keluar dari jalurnya.
Pola-pola itulah yang membuatnya menjadi tangguh seperti yang kita lihat sekarang. Keane seakan menjadi petarung yang tak keneal kompormi dan hal itu bahkan menjadi identitas kuat dalam membangun karakternya sebagai pemain yang disegani skealigus berbahaya bagi kawan dan lawan.
Meski memiliki intelejensi yang prima di lapangan sebagai anchor-man, dalam buku autobiografinya yang dirilis pada 2013, Sir Alex Ferguson mengklaim jika bagian tertajam yang ada pada diri anak asuhnya adalah lidah. Keane bisa menusuk siapapun melalui daging tak bertulang miliknya itu hingga membuat orang lain sakit hati dan bahkan pensiun.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: Adrien Rabiot yang Bertransformasi Menjadi Senjata Rahasia Marseille
- Obrolan Vigo: Frenkie De Jong Adalah Langkah Mundur Bagi Barcelona
- Obrolan Vigo: Langkah Bijak Adalah Kunci Terbaik Bagi Fiorentina
- Obrolan Vigo: Real Betis Adalah Suaka Bagi Mereka yang Terbuang
Pernah dalam satu kesempatan, ia mengalami cedera lantaran bentrok dengan Alf-Inge Haaland ketika nama kedua masih memperkuat Leeds United pada 1997 lalu. Ia sempat dituduh melakukan diving di kotal penalti. Keane yang marah bersumpah membalaskan dendam. Empat tahun berselang kala Derby Manchester terjadi, Keane tanpa ragu menerjang Haaland senior yang membuat karirnya di sepakbola selesai.
Untuk urusan lidah, Gerard Pique pernah kena semprot oleh Keane. Ketika itu, di ruang ganti United, Pique yang masih berstatus sebagai pemain muda potensial lupa mematikan ponsel. Telepon genggamnya pun berdering, Keane langsung naik pitam dan menanyai telepon siapa yang berbunyi.
Seraya kesetanan, ia bertanya “ponsel siapa ini” dan Pique pun terkena sasaran tembak. Dalam wawancara, ia mengklaim hampir kencing di celana lantaran sangat takut melihat ekspresi sosok asal Republik Irlandia itu yang lumayan menyala ketika geram.

Tak berhenti sampai di Pique, lidahnya juga terbilang tajam saat menjadi pundit. Ya, Keane saat ini memang sibuk di depan layar seraya mengomentari apa yang terjadi di lapangan. Dalam sebuah momen pad laga Chelsea melawan United di Stamford Bridge pada 2022 lalu, Keane menyemprot Marcus Rashford yang tersenyim ketika melakukan pemanasan.
“Saya melihat Marcus tersenyum saat latihan. Saya tak suka pemain yang terlalu banyak senyum. Anda perlu melakukan itu. Anda bisa melakukannya saat mencetak gol atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi permainan,” urainya seperti diwartakan Sky Sports.
Baca Juga:
- 5 Fakta Penyerang Underrated Terbaik yang Sempat Mentas di LaLiga
- 5 Fakta Nasib Wonderkid Pilihan Lionel Messi di Tahun 2016
- 5 Fakta Pemain Terbaik MLS Sepanjang Masa
- 5 Fakta Klub Sepakbola Milik Tentara
Ia juga sempat menjadi pelatih sebelum memulai karir sebagai pundit. Sunderland menjadi tim yang ditukangi ketika the Black Cats terdegradasi ke Championship. Di sana, ia ditugaskan mengembalikan tim ke Premier League dan Keane sukses catatkan silverware dengan membawa tim keluar sebagai juara.
Ketika tim promosi ke Premier League, beberapa mantan pemain United macam Kieran Richardson, Paul McShane, Danny Higginbotham dan Phil Bardsley datang ke Stadium of Light. Namun di sana, ia mengalami pukulan telak ketika ditumbangkan Everton dengan skor 7-1. Keane merasa kekalahan tersebut merupakan titik terendah dalam karirnya.
🗣️ Roy Keane on James Maddison this week: “If you’re a player in the Spurs dressing room, you wouldn’t be looking and going, oh he’s back today, we’re going to be fine.”
James Maddison’s celebration: 🤫 pic.twitter.com/7RHbE9rXxp
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) February 16, 2025
Sebagai manajer, ia juga pernah berselisih paham dengan wakil Presiden FIFA, Jack Werner, September 2008 lalu ketika menarik Dwight Yorke dari Timnas Trinidad Tobago. Werner merasa jika Keane seakan tak menghargai negara-negara kecil di Karabia. Tak tinggal diam, ia menyebut Werner sebagai badut dan meminta York dipensiunkan dari Timnas dan sepakbola internasional.
Setelah Sunderland, ia sempat menukangi Ipswich Town dalam periode 2009-2011 lalu. Dalam dua tahun masa baktinya, the Tractor kerap mengalami pasang surut performa sehingga targer promosi ke Premier League yang dibebankan padanya seakan menguap. Tim kesukaan Ed Sheeran itu pun harus berpisah dengan Keano pada 2011 lalu. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi menukangi tim manapun dan fokus pada dunia pundit.
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















