
Obrolan Vigo Hidetoshi Nakata, Real Captain Tsubasa yang Tak Lagi Mencintai Sepakbola
Vivagoal – Berita Bola – Jauh sebelum Kaoru Mitoma, Ritsu Doan, atau Takefusa Kubo, Jepang pernah memiliki pemain yang mencuri atensi publik benua biru, Ia adalah Hidetoshi Nakata. Sang pemain bertransformasi sebagai ikon baru baik di Jepang atau pun di Eropa. Namun ia sempat membuat kejutan dengan pensiun di usia yang sejatinya masih terbilpang produktif.
Negeri Sakura memang tidak menjadikan sepakbola sebagai olahraga populernya. Anak-anak di sana cenderung lebih suka bermain dengan tongkat baseball daripada menendang bola. Hal itu yang membuat Hidetoshi Nakata bimbang memilih antara baseball atau sepakbola. Terlebih, Jepang tidak memiliki nama besar yang bisa dijadikan panutan oleh Nakata muda dalam berkarir di lapangan hijau. Kecintaannya terhadap si kulit bundar justru tumbuh ketika Ia membaca serial komik ‘Captain Tsubasa.’
Sejak saat itu, pemain yang lahir di Kofu tersebut mulai menjadikan sepakbola sebagai kesenangannya. Sang pemain menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama Bellmare Hiratsuka (kini Shonan Bellmare). Di sana, Ia tampil baik dan membantu timnya menjuarai Asian Cup Winners’ Cup pada 1996. Di tahun yang sama, Nakata juga tampil menawan di ajang Olimpiade bersama Jepang dan bahkan mampu mengandaskan Brazil yang kala itu diperkuat Rivaldo, Ronaldo, hingga Roberto Carlos. Ia juga mampu membawa negaranya lolos ke Piala Dunia di tahun 1998.

Prancis 1998 menjadi piala dunia pertama yang diikuti Jepang. Ajang ini menjelma sebagai panggung terbaik Hidetoshi Nakata untuk bersinar. Selayaknya negara debutan lain, negaranya tampil kurang baik dengan pulang sebagai juru kunci di bawah Argentina, Kroasia, dan Jamaika. Meskipun Jepang terjerembap di dasar klasemen, hal itu tidak menyurutkan minat tim-tim Eropa untuk memboyongnya. Ia memang merupakan sosok yang lumayan tampil mencolok lantaran mengecat rambutnya rambutnya menjadi pirang.
Baca Juga:
- 5 Fakta Pesepakbola dengan Bayaran Termahal di Tahun 2025
- 5 Fakta Mantan Bintang Serie A yang Tengah Menjadi Pelatih
- 5 Fakta Pemain One Man Club yang Masih Aktif di Liga Indonesia
- 5 Fakta Klub Manchester di Luar United dan City
“Sebelum tawaran dari Perugia datang, Juventus sempat memberi tawaran. Mereka menawari untuk berkatih dengna tim Primavera. Namun sebulan berlalu, saya tak berlatih bersama tim utama. Hal itu membuat saya pulang ke Jepang. Namun saya masih ingin bermain di Italia. Setelah Piala Dunia 98, saya pergi ke Perugia. Tim milik Presiden Luciano Gaucci seakan menjadi opsi bagi saya,” urainya seperti diwartkaan Football Italia.
Pada usia 21 tahun, Ia resmi menerima pinangan tim yang baru promosi ke Serie A, Perugia pada musim 1998/99 dan menjadikannya pemain Jepang kedua yang mentas di liga tertinggi Italia setelah Kazu Miura. Transfernya menghebohkan negaranya dan membuatnya sebagai bintang besar baru baik di Jepang maupun Eropa. Di tahun debutnya, sang pemain tampil memukau hingga namanya sempat masuk ke nominasi Ballon d’Or.
Berkat performanya yang cemerlang dan turut membantu branding klub terutama di Kawasan Asia, AS Roma tidak sungkan menyodorkan 22 juta euro guna membawanya ke Stadio Olimpico pada tahun 2000. Bersama serigala ibukota, Ia harus bersaing memperebutkan satu tempat bersama Francesco Totti dan membuat menit bermainnya berkurang drastis.

Momen terbaik Nakata datang ketika Ia masuk menggantikan Totti kala Roma tertinggal 2-0 dari Juventus. Hasilnya, sebuah gol indah dan satu assist penting berhasil Ia catatkan dan membantu timnya mendulang Scudetto di musim 2000/01.
Namun, karena menit bermain yang tidak kunjung membaik membuat I Giallorossi menerima mahar Parma sebesar 28 juta euro untuk sang pemain pada 2001. Dengan tim barunya, Ia sukses menggondol piala Coppa Italia di musim pertamanya dan membuat karirnya perlahan pulih serta kembali dinominasikan dalam list Ballon d’Or.
Baca Juga:
- Obrolan Vigo: 1998/99, Musim Terburuk yang Pernah Dilalui Manchester City
- Obrolan Vigo: Dele Alli yang Karirnya Merosot Karena Dirinya Sendiri
- Obrolan Vigo: Marinakis yang Menjadikan Nottingham Forest Seperti gim Football Manager
- Obrolan Vigo: Estevao, Ekspor Terbaik Brasil Setelah Kopi dan Neymar
Pada tahun 2002, Hidetoshi Nakata mengemban tugas berat dari negaranya guna berlaga untuk ajang Piala Dunia yang diselenggarakan di negaranya bersama Korea Selatan. Tidak banyak pemain Jepang yang merantau ke negara lain sehingga Nakata mau tak mau mengambil peran krusial di skuatnya.
Jepang tampil impresif di babak grup dengan menahan imbang Belgia serta menang melawan Rusia dan Tunisia. Ia juga menyumbang 1 gol di laga terakhir fase grup. Pemain yang terinspirasi oleh Captain Tsubasa itu sanggup membawa Jepang hingga babak 16 besar untuk kali pertama sebelum akhirnya tumbang di tangan kuda hitam, Turki.
Selepas membela Blue Samurai, Nakata memandang klubnya sangat berbeda dari sebelumnya. Setelah menyelesaikan liga di peringkat 5 klasemen akhir musim 2002/03 serta datangnya Adriano dan Adrian Mutu, Ia merasa mentalitas timnya tidak sejalan dengan harapannya. “Saya selalu merasa timku seperti keluarga besar, namun pada satu titik hal itu berubah dan membuat saya tertekan” ucapnya.
Nakata melihat timnya dipenuhi anak nakal yang haus akan uang dan lebih berperilaku layaknya selebriti. Ditambah lagi ketidaksesuaian strategi Cesare Prandelli dengan kapasitasnya membuat Ia sering berselisih dan mulai kehilangan arah dalam bermain sepakbola. Delapan belas bulan setelah piala dunia yang indah, Nakata dilempar ke Bologna dengan status pinjaman. Selama merumput di Stadio Renato Dell’Ara, Ia membantu timnya lolos dari jurang degradasi.

Parma yang saat itu sedang diambang kebangkrutan menutup pintu pulang untuk sang pemain sehingga Ia harus hijrah menuju Fiorentina. Di tengah sulitnya mencari kesenangan lagi dalam bermain bola, Ia kembali berjumpa dengan mantan pelatihnya di Parma, Cesare Prandelli, yang ditunjuk sebagai pelatih anyar La Viola. Friksi di masa lalu pada akhirnya membuat sang pemain harus angkat kaki.
Ia memutuskan terbang jauh ke Inggris untuk bergabung bersama tim asal greater Manchester, Bolton dengan status pinjaman. Di sana, keadaannya tidak lebih baik dari Italia. Di bawah komando Sam Allardyce, Nakata justru semakin kehilangan gairahnya bermain sepakbola. Puncaknya, pada usia yang relatif emas, 28 tahun, sang pemain menyatakan akan pensiun setelah gelaran Piala Dunia 2006.
Jerman menjadi tempat terakhir Nakata bermain sepakbola. Jepang duduk di dasar klasemen grup setelah meraih satu poin pada gelaran empat tahunan tersebut. Kekalahan 1-4 dari Brazil menandai rampungnya perjalanan Captain Tsubasa dalam diri Hidetoshi Nakata.
Sepakbola yang telah menjadi sebuah industri membuatnya yakin untuk menutup buku karirnya pada umur 29 tahun. “Setiap hari aku meyadari bahwa sepakbola telah menjadi bisnis. Rekan timku bermain untuk uang dan itu menghilangkan semua kesenangan. Yang terpenting aku bermain untuk bersenang-senang, tanpa itu tidak ada yang bisa saya mainkan” ujarnya seperti diwartakan Football Italia.
Penulis: Aldo Nugraha
Editor Heri Susanto
Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com















