Site icon Vivagoal.com

Marc Overmars: Si Kaki Kaca Pertama dari Belanda

Marc Overmars: Si Kaki Kaca Pertama dari Belanda

Vivagoal Berita BolaSeorang winger yang baik jelas memiliki visi bermain mumpuni, daya jelajah yang tinggi serta agresivitas tuk menyisir sisi lapangan. Berbagai aspek tersebut dimiliki oleh Marc Overmars. Namun daya jelajah sang winger yang kelewat tinggi juga membawanya pada resiko besar, cedera kaki yang bakal mematikan karitnya.

Jauh sebelum era Arjen Robben, Belanda memiliki winger yang memiliki kemampuan sama dengan si Winger plontos. Orang itu adalah Overmars. Pria kelahiran Ernst, 29 Maret 1973 sudah menunjukan diri kala masih bermain untuk Go Ahead Eages dan Williem II di awal medio 90an.

Seperti kebanyakan pemain lain, Overmars memiliki pilihan untuk gabung ke salah satu trisula Eredivisie yakni Feyenoord, PSV dan Ajax. Ia pun menjatuhkan pilihan ke klub yang disebut terakhir. Ajax resmi memboyongnya dari Williem II dengan mahar tak kurang dari 2.5 Juta Guilder atau setara dengan 1,2 Juta Euro.

Keinginan Ajax memboyong sang pemain bukannya tanpa sebab. Pelatih de Godenzonen,  Louis Van Gaal menilai Overmars adalah sosok yang cukup dibutuhkan dalam timnya. Selain memiliki kelengkapan sebagai seorang winger, ia terbilang multifungsi. Kedua kakinya sama baik. Sisi kiri dan kanan bisa dijelajahnya dengan mudah. Hal itu pula yang membuat namanya selalu diandalkan dan menjadikan Ajax sebagai tim yang mendominasi Liga Belanda pada pertengahan 90an.


Baca Juga:


Berbagai gelar domestik macam Eredivisi, KNVB Bekker hingga Liga Champions di musim 1995 mampir ke almari tim asal Ibu Kota Belanda itu. Nama Overmars terpatri dala golden generation Ajax bersama Danny Blind, Edwin Van Der Saar, Edgar Davids hingga Patrick Kluivert. Capaian prestis di tahun 1995 membuat namanya dikaitkan dengan tim Eropa. Manchester United tertarik untuk membawanya ke Inggris. Namun dengan santai, kepada Mirror ia menyebut jika masih ingin bertahan setidaknya dalam dua musim ke depan bersama Ajax.

Terkait performa sang pemain, Louis Van Gaal pun memujinya sebagai winger terbaik yang pernah ia lihat.  “Ia adalah penggiring bola yang baik dan dapat mengalahkan pemain manapun dalam situasi satu lawan satu. Ia adalah pemain yang penting dalam sistem saya karena saya adalah pelatih dengan filosofi menyerang (saat di Ajax), dan Overmars ada di sana sebagai winger terbaik yang dimiliki Belanda,” ujar Van Gaal seperti dilansir BBC.

Pasca mendulang gelar Liga Champions, cedera mulai menghantui Overmars mendapatkan cedera panjang hampir dua musim. Alih-alih mengeluarkan skill di atas lapangan, ia lebih banyak berkutat pada ruang perawaran. Meski rentan dengan cedera, Arsenal yang menaruh minat tak sedikitpun mengendurkan penetrasi tuk membawa sang pemain ke London Timur. Pada bursa transfer musim panas 1996/97, Arsenal resmi mendaratkan sang pemain dengan mahar 7 Juta Euro

Bersinar di Arsenal dan Diandalkan Wenger

Nama Overmars sejatinya sempat dikecilkan lantaran riwayat cedera uang ia miliki. Fans merasa angka yang dikeluarkan Gunners terbilang lumayan besar untuk saat itu guna memboyong pemain yang ringkih. Namun intuisi Wenger tak salah, sang pemain cepat beradaptasi di Inggris dan menjadi bagian penting dalam kerangka kejayaan Arsenal di tahun 90an.

Semusim pasca bergabung, Overmars mampu mempersembahkan double winners untuk Gunners yakni Premier League dan Piala FA. Namanya pun mulai dielu-elukan fans karena kepiawaiannya membawa tim berprestasi. Ivestasi yang dikeluarkan atas namanya pun lambat lain berbuah manis.

Setelahnya, nama Overmars masihn menjadi andalan Arsenal. Bersama Dennis Bergkamp dan Nicolas Anelka, ketiganya menjadi trisula maut. Namun di musim 1999, dua tahun pasca Double Winners. Michel Cox, penulis buku The Mixer, Story of Premier League Tactic, from Route One to False Nine menyebut Wenger melakukan langkah jenus dalam karirnya.


Baca Juga:


Saat itu, Anelka dan Overmars terlibat friksi lantaran winger asal Belanda tak ingin mengoper bola kepadanya sebuah laga Ia justru malah memberikan bola kepada Bergkamp. Kekecewaan pemain Prancis itu pun disampaikan langusng ke publik.

“Saya tak mendapat bola yang cukup,” ungkapnya kepada Pers Prancis beberapa waktu lalu. “Saya akan bicara kepada Manajer tentang keegoisan Overmars,” ungkap Anelka. Keduanya pun dipanggik untuk berbicara langsung. Anelka yang tak fasih berbahasa Inggris bicara dalam bahasa Prancis. Di sisi lain, Overmars pun tak bisa memahami maksud perkataan Anelka. Wenger yang berada di tengah bertindak sebagai moderator bertindak dengan cerdas.

Wenger menyebut Anelka memiliki sedikit masalah dengan keegoisan Overmars dan Overmars berjanji akan lebih banyak memberikan bola kepada Anelka. Namun hal tersebut tak berjalan lama. Kenyataannya, kedua pemian dipisahkan, Anelka dijual ke Real Madrid dengan harga 23 Juta Euro sementara Overmars dilepas ke Barcelona dengan mahar 25 Juta Euro. Nominal tersebut membuatnya menjadi pemain Belanda termahal di dunia pada saat itu.

Cedera dan Kehancuran Karir di Barcelona

Overmars mengaku senang bisa bergabung dengan Barcelona. Bahkan ia antusias untuk melakoni laga debutnya bersama Blaugrana. Debut tak resmi Overmars hadir dalam ajang Amsterdam Tournament menghadapi Arsenal. Namun ia hanya bermain selama 45 menit dan menderita cedera engkel.

Eksplosivitas Overmars di sisi sayap, pun mau tak mau menghasilkan resiko. Ia krap mendeita cedera antaran sering ditebas lawan. Rangkaian cedera lutut dan engkel kerap menghantuinya. Bahkan sejak di Ajax, dua hal tersebut silih berganti datang. Performa Overmars menjadi tak maksimal lantaran cedera yang kerap menghantuinya.

Bahkan, rangkaian cedera yang didapat Overmars mau tak mau membuat menit bermainnya di Barcelona ikut tereduksi pada musim 2001/02. Perubahan skema bermain Blaugrana dan kedatangan Javier Saviola serta dipromosikannya Xavi Hernandez ke tim utama juga menjadi pangkal permasalahan jarang dimainkannya sang winger dalam jajaran starting line up.

Menilik laporan Mirror pada 2002 silam, sang oemain dispekuasikan bakal dilepas karena jarang memberikan kontribusi bagi tim. Namun ia enggan untuk meninggalkan Barcelona.“ Prioritasku saat ini adalah untuk kemenangan tim. Isu personal tentang diriku (yang jarang bermain) tidaklah penring. Aku akan tetap berada di sini,” ungkapnya kepada Mundo Deportivo.

Namun di musim tersebut, Barcelona tampil berantakan. Van Gaal dipanggil kembali untuk menyelamatkan tim. Overmars pun buka suara. Menurutnya, mantan pelatihnya tersbeut merupakan manajer yang baik. Namun apakah kedatangannya akan banyak membantu Barcelona, ia tak bisa menjawabnya.


Baca Juga:


Di bawah asuhan Van Gaal, Barcelona justru terperosok. Mereka hanya berjarak dua poin dari zona degradasi. Hal tersebut mau tak mau membuat Van Gaal resign dari posisinya pada bulan Januari dan karir Overmars pun di Barcelona semakin suram. Ia kembali diterpa cedera dan pada akhirnya harus menyerah pada cedera lutut yang menghantuinya semusim berselang. Pada 2004, Overmars mengumumkan untuk pensiun dari lapangan hijau.

Empat musim berselang, ia kembali comeback ke lapangan hijau dan bergabung dengan Go Ahead Eagle di musim 2008. Bersama tim pertamanya, ia mengoleksi 24 laga di berbagai kompetisi sebelum akhirnya benar-benar menutup karir sebagai pemain.

Cinta Kepada Arsenal yang Belum Pudar

Pasca selesai berkarir di sepabola pada 2004 silam, nama Overmars masuk ke dalam jajaran direksi Go Ahead Eagles. Setelah 7 musim, ia pergi ke Ajax untuk melatih tim muda anak tuhan dari Amsterdam. Setahun berselang, namanya dipromosikan menjadi direktur Sepakbola Ajax.

Sebagai seorang Direktur Olahraga, Overmars berperan untuk mengurusi berbagai aspek seperti analisa, scouting dan mengevaluasi staff kepelatihan. Ia juga mengemban tugas untuk memperkokoh fisolosofi sepakbola menyerang ala Ajax yang sudah diwariskan sejak era Rinus Michels.

Kegemilangan Overmars, bersama Edwin Van Der Saar dapat dilihat dari akuisisi pemain muda potensial untuk dijadikan pemain bintang dan bisa dijual kembali ke tim Eropa yang memiliki budget melimpah. Ajax memang menjadi produsen sepakbola handal melalui kebijakan pembinaan pemain dan pemolesan pemain muda yang baik setiap tahunnya. Mereka tak pernah kehabisan soosk pemain muda potensial. Pasalnya, dalam setiap dana transfer yang masuk, sebagian diantaranya bakal dialokasikan ke akademi guna mencetak bibit-bibit baru berkualitas di akademi mereka.

Musim lalu nampaknya menjadi musim terbaik Overmars sebagai staff di ajaxAjax, kombinasi skuat muda Ajax, pelatih Eric Ten Haag, dirinya dan Van Der Saar membuat tim asal Ibu Kota mendulang Double Winners dan melangkah ke fase semifinal Liga Champions. Berbagai pemain mereka pun diburu banyak klub Eropa.


Baca Juga:


Ajax yang memiliki stok pemain muda melimpah sempat menawarkan Hakim Ziyech ke Arsenal. Bahkan Overmars secara terang-terangan meminta klubnya itu menjual Ozil dan menggantinya dengan Ziyech yang siap dijual dengan harga yang kompetitif ke London Utara, Sekedar catatan, andai Arsenal mau, Overmars bisa melepas pemainnya tersebut dengan harga tak kurang dari 40 Juta Euro.

“Saya cukup terkejut bahwa Ziyech masih sepi peminat,” ucap Overmars kepada Voetbal International.  “Saya pikir Ziyech lebih baik daripada Ozil. Saya bilang ke Arsenal: jual dia dan dapatkan Ziyech setengah harga. Tetapi, mereka tidak mendengarkan saya,” tambahnya.

Pada akhirnya, Ozil tetap dipertahankan Arsenal dan Gunners merekrut Nicolas Pepe dengan bandrol 72 Juta Pounds. Pepe sampai saat ini masih mencari form terbaiknya sementara Ziyech pada akhirnya resmi merapat ke Chelsea per musim depan dengan mahar 45 Juta Pounds. Realisasi transfer bakal diumumkan pasca kompetisi rampung.

Selalu update berita bola terbaru seputar sepak bola dunia hanya di Vivagoal.com

Exit mobile version