Site icon Vivagoal.com

Vincent Kompany: Benteng Pertama dalam Revolusi Manchester City

Vincent Kompany: Benteng Pertama dalam Revolusi Manchester City

Vivagoal Liga InggrisPasca diakuisisi Sheikh Mansour pada 2008 silam, Manchester City banyak mendatangkan pemain berlabel bintang guna membangunkan super team yang mereka canangkan tuk menguasai Eropa. Satu dari sekian nama tersebut adalah Vincent Kompany.

Pria kelahiran Uccle, Belgia 10 April 1986 hadir dari seorang ayah berdarah Kongo dan ibu yang berasal dari Belgia. Kompany muda memulai karir profesionalnya bersama salah satu tim terbesar Jupiter League, Anderlecht. Sejak memulai debut pada 2003 silam, namanya langsung melejit dan digadang bakal menjadi bek tengah terbaik di dunia.

Menjadi pemain Belgia dan berkembang di Jupiter League merupakan hal yang menyenangkan. Bersama seragam ungu Anderlecht, ia mengemas menit bermain yang lumayan signifikan. Namanya bahkan menjadi pesepakbola muda yang menjadi komoditi terpanas pada bursa transfer yang dibuka

Sepasang gelar domestik sukses direngkuhnya bersama Anderlecht. Ia selalu tampil reguler di setiap musim. Bahkan ia sempat mendapatkan tawaran dari berbagai tim elit Eropa berkat kecemerlangannya tersebut. Manchester United, Chelsea hingga Juventus tertarik mendatangkannya. Vinnie tak bergeming. “Tak perlu khawatir, aku akan bertahan di sini,” ungkapnya kepada UEFA beberapa waktu lalu.

Meski demikian, karirnya pun berlanjut ke Eropa. Bertahan di Belgia jelas tak akan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam karirnya. Per 2006, Kompany memutuskan hengkang ke Jerman guna menerima pinangan dari Hamburg SV. Ia pergi ke rival St Pauli itu dengan mahar 10 Juta Euro sekaligus memecahkan rekor transfer klub.


Baca Juga:


Musim perdananya di Jerman tak berjalan sesuai rencana, ia lebih banyak berkutat dengan cedera Achilles yang memaksanya banyak menepi. Selain itu, pelatih Hamburg Thomas Doll, kemudian Hubb Stevens lebih banyak memainkannya pada posisi gelandang bertahan alih-alih sebagai bek tengah. Otomatis, bermain di luar posisinya membuat Kompany tak bisa mengeluarkan potensi terbaiknya bersama Der Dino.

Dua musim bersama Hamburg, potensi Kompany tak keluar secara maskimal. Klub pun mencoba melepasnya ke tim lain. Tanpa disangka, Manchester City yang tengah membangun kekuatan di bawah pemilik baru Sheikh Mansour berminat kepadanya. Dana tak kurang dari 8,5 Euro pun digunakan sebagai pelicin agar Kompany bisa merapat ke Sisi Biru Kota Manchester.

Selain Vinnie, City juga menggamit beberapa nama lain di bursa transfer musim 2009/09 seperti Shaun Wright Phillips (Chelsea), Pablo Zabaleta (Espanyol), Robinho (Real Madrid), Wayne Bridge (Chelsea) dan Shay Given (Newcastle)

Transisi yang Hampir Tak Mulus

Kompany datang ke City di bawah asuhan Mark Hughes. Seperti kebanyakan pelatih Inggris yang miskin eksplorasi taktik dan cara mendalami karakter pemain, Hughes pun nampak tak tahu cara memaksimalkan potensi pemain. Kompany kembali dimainkan di posisi gelandang tengah.

Gol perdananya lahir pada bulan September 2008 kala City kalah dari Wigan Athletic. Ia pun mulai rutin dimainkan tak lama berselang. Musim perdananya di City, ia hanya mampu membawa klub menembus posisi 10. Namun Kompany sudah tampil reguler dengan mengemas 46 laga di berbagai kompetisi,

Merosotnya kinerja Hughes bersama City di musim berikutnya berbuah surat pemecatan untuk mantan pemain Man United itu. 19 Desember 2009, Roberto Mancini menjabat sebagai manajer City. Di bawah asuhan Mancini, Kompany mulai menemukan sentuhan terbaiknya. Mancini yang sadar potensi besar Kompany menarik sang pemain menjadi bek tengah guna mengisi poros pertahanan klub.

Tak disangka, perubahan skema tersebut membuat City menjadi tim yang tangguh. Jika di musim sebelumnya mereka menyelesaikan liga di posisi kesepuluh, maka di bawah asuhan Don Mancio, the Sky Blues merangsek ke posisi kelima. Mereka hanya berselisih tiga angka dari tim peringkat empat, Tottenham Hotspur.


Baca Juga:


Selain faktor Mancini, skuat City di tahun 2009/10 seakan menjadi prototip kesuksesan tim. Di awal musim mereka mendatangkan pemain-pemain bintang dari klub lain macam Gareth Barry (Aston Villa), Carlos Tevez (Man United), Emanuel Adebayor (Arsenal) hingga Patrick Vieira (Inter Milan).

Asa menuju kesuksesan mulai dicanangkan City. Pemain bintang lain yang tengah bersinar juga didatangkan. Pada bursa transfer musim panas 2010, City mendatangkan David Silva (Valencia), Yaya Toure (Barcelona), hingga Alexander Kolarov (Lazio).

Di musim keduanya bersama City, Kompany sukses tampil di 50 laga dan mengklaim diri sebagai bek terbaik di Premier League. Raihan tersebut disempurnakan dengan keluarnya City sebagai juara Piala FA 2010 dan mereka sukses menembus Liga Champions pasca finish di posisi ketiga pada tabel klasemen akhir.

Milestone dan Menjadi Legenda

Pasca dipegang Sheikh Mansour, performa City terus menanjak setiap tahunnya. Kombinasi kedatangan pemain bintang, tangan dingin Roberto Mancini serta pola permainan yang terbilang masih fresh membuat City terus merangkak di kancah domestik. Puncaknya, di musim 2011/12, ia pun dipercaya menjadi kapten tim pasca kasus indisipliner Carlos Tevez yang menolak dimainkan di ajang Liga Champions.

Kompany dikenal sebagai kapten yang cukup tenang dan fokus sebagai tangan kanan pelatih di atas lapangan.  Tak jarang kontribusi besarnya hadir dengan gol-gol krusial. Kompany sempat menjadi pahlawan kala menggasak United di Old Trafford,  Kemenangan tersebut pun menjadi kunci keberhasilan City menjadi juara Premier League pertama dalam 44 tahun terakhir. pasca bersaing ketat dengan Manchester United hingga pekan terakhir.

Musim 2012 menjadi masa kelam City, meski mereka mendatangkan sederet bintang di bursa trasnfer, City tak meraih apapun di kancah domestik. Gelar Premier League harus terbang ke sisi Merah Manchester, Yaya Toure dan kolega harus rontok di Liga Champions. Bahkan pada laga final Piala FA kontra Wigan, mereka juga harus tersungkur. Hal tersebut pun membuat Roberto Mancini dipecat dari jabatannya sebagai manajer tim dan digantikan sosok lain, Manuele Pellegrini.

Angin segar dibawa Pellegrini dalam skuat. Ia tak segan melepas beberapa pemain yang tak diperlukan untuk mengakomodir taktiknya. Kolo Toure, Carlos Tevez. Roque Santa Cruz hingga Wayne Bridge ditendang keluar. Sebagai ganti, berabagai nama lain macam Alvaro Negredo (Sevilla), Martin Demichelis (Malaga), Jesus Navas (Sevilla) hingga Stefan Jovetic (Fiorentina) dibawa ke dalam klub. Hasilnya, fantastis, pelatih asal Cile membawa City menjadi double winner pasca menjuarai Piala Liga dan Premier League.


Baca Juga:


Setelahnya, Pellegrini gagal membawa City menjuarai Liga dalam dua musim terakhir. Kompany mulai jarang dimainkan lantaran mengalami serangkaian cedera. Namun pada fase sulit tersebut, City masih bisa menembus fase semi-final Liga Champions sebelum dikalahkan Real Madrid. Sampai hari ini capaian tersebut belum bisa diulangi oleh Pep Guardiola sekalipun.

Pep Guardiola pun datang, skuat City kembali dirombak. Lini belakang menjadi prioritas Pep guna mempertebal benteng pertahanan tim. Nama-nama macam John Stones, Aymeric Laporte, Nicolas Otamendi silih berganti mengisi posisi bek pertahanan bagi City. Ia lebih banyak berperan sebagai pemain penting di ruang ganti dibandingkan di atas lapangan.

Satu-satunya momen yang bisa di capture dalam karir Kompany bersama Pep adalah kala ia mencetak satu gol dalam parade kemenangan 0-3 City atas Arsenal. Di musim yang sama, the Sky Blues juga menjuarai liga dan berselisih 19 angka dari Manchester United yang barada di posisi kedua.

Semusim berselang, City masih perkasa. Mereka mampu memepet Liverpool hingga pekan terahir guna menjadi juara Liga Primer secara back to back dalam dua musim terakhir. Kompany sempat membuat gol spektakuler melalui solo run ke gawang Leicester di 2018/19 lalu.

Gol tersebut seakan menjadi yang terakhir untuk Kompany. Setelah 10 musim di Manchester, ia memutuskan untuk pulang ke Anderlecht sebagai pemain merangkap pelatih, Bersama City, Kompany sukses mendulang empat gelar Premier League, sepasang Piala FA, Empat Piala Liga dan sepasang Community Shierld.


Baca Juga:


Pasca kepergian Kompany, Pep Guardiola enggan mendatangkan bek baru dan tetap percaya kepada Aymeric Laporte, John Stones dan Nicolas Otamendi. Sayangnya performa ketiga bek tersebut jauh dari harapan. Stones dan Otamendi kerap tampil inkonsisten sementara Laporte banyak menghabiskan musim 2019/20 dengan serangkaian cedera. Sepeninggal Kompany, di kancah Liga, City seakan babak belur. Mereka tertinggal 25 angka dari Liverpool di puncak klasemen sementara.

Benteng kokoh bernama Kompany telah pergi. Kini City tinggal mencari sosok lain yang bisa membuat pertahanan mereka kembali kokoh dan bisa bersaing lagi baik di kancah domestik maupun Eropa.

Belgium Golden Generation

Kecemerlangan tampil di City turut berimbas pada performanya di Tim Nasional. Kompany dipercaya memimpin generasi emas Belgia di Piala Dunia 2014. Rude Devils yang saat itu disesaki berbagai nama beken macam Eden Hazard, Romelu Lukaku, Kevin de Bruyne hingga Moussa Dembele dalam skuat. Perjalaan mereka di 2014 harus terhenti di fase quarter final pasca kandas dari Argentina yang menjadi runner up pada turnamen tersebut.


Baca Juga:


Berlanjut ke Euro 2016. nama Kompany tak disertakan dalam skuat. Meski begitu, Negeri Cokelat masih mampu melaju ke fase quarter final. Dua musim berikutnya di ajang Piala Dunia 2018 yang dihelat di Russia namanya hadir dalam skuat. Belgia melaju hingga fase semifinal sebelum kalah dari Prancis yang akhirnya menjadi juara untuk kali kedua sepanjang sejarah.

Dalam turnamen empat tahunan tersebut, Kompany main dalam 9 laga dan sukses mengantarkan Setan Merah menjadi juara ketiga pasca mengalahkan Inggris asuhan Gareth Southgate.

Selalu update berita bola terbaru seputar Liga Inggris hanya di Vivagoal.com

Exit mobile version